[PORTAL-ISLAM.ID] Litbang Harian Kompas Rabu (20/3) mempublikasikan hasil jajak pendapat. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 49,7 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. 13,4 persen responden menyatakan rahasia.
Bagaimana kita membaca data ini?Hasil survei #LitbangKompas terbaru memperlihatkan jarak keterpilihan yang semakin sempit antara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.#SurveiKompas2019 #MudaMemilih #Pemilu 2019— Kompas Data (@KompasData) March 20, 2019
Baca selengkapnya di: https://t.co/X7atZBHHa7
Pertama, survei Litbang Kompas mengkonfirmasi data yang sebelumnya dipublikasikan oleh Rico Marbun dari Median dan Eep Saefulloh Fatah dari Polmark. Elektabilitas Jokowi sudah berada di bawah angka 50 persen. Rico menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 47,9 persen. Eep menyatakan lebih rendah, hanya 40.4 persen.
Artinya ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak menghendaki lagi Jokowi, atau setidaknya belum tetapkan memilihnya kembali.
Jelas ini merupakan kabar jelek bagi seorang petahana ibarat Jokowi. Seorang petahana sanggup dikatakan aman, kalau setidaknya elektabilitasnya di atas 60 persen.
Angka ini juga menjelaskan mengapa Jokowi dan kubu TKN terlihat sangat panik. Segala macam cara dilakukan. Segala macam sumber daya dikerahkan. Pokoknya halal haram, hantam!
Siapa yang tidak panik coba. Sebagai petahana yang sudah berkampanye selama hampir lima tahun, punya semua saluran sumber daya keuangan dan kekuasaan, kok elektabilitasnya masih di bawah 50 persen?
Kedua, survei Litbang Kompas ini mendelegitimasi dan sekaligus memporak porandakan publikasi forum survei yang menjadi tim sukses Jokowi, antara lain LSI Denny JA, dan SMRC.
LSI Denny JA pada Selasa (5/3) menyebutkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi 30,9 persen. Yang belum tetapkan 9,9 persen.
SMRC pada Ahad (10/3) merilis survei elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,1 persen. Sepekan kemudian kembali merilis survei, elektabilitas Jokowi dinyatakan naik.
Pada hari pelaksanaan debat antar-cawapres Ahad (17/3) SMRC menyatakan elektabilitas pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berada di angka 57,6 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 31,8 persen. Adapun 10,6 persen responden menyatakan tidak tahu/rahasia.
Dengan elektabilitas ibarat itu Denny JA sudah sanggup memastikan Jokowi akan memenangkan Pilpres 2019. Sementara SMRC juga menyatakan hal yang sama. Hanya bahasanya berbeda. Butuh keajaiban bagi Prabowo untuk memenangkan Pilpres.
Kesimpulan mereka tidak salah. Dengan rentang elektabiltas di atas 25 persen, dan angka yang belum tetapkan lebih kecil, secara matematis tidak ada peluang bagi Prabowo untuk memenangkan pilpres.
Itu kalau data yang mereka sampaikan benar. Tidak memainkan margin of errors. Desain surveinya benar, pengambilan sampelnya benar. Dan yang paling penting, benar ada surveinya.
Lembaga-lembaga survei ini sesungguhnya nama lain dari tim sukses. Tugas mereka bukan memetakan opini publik, tapi mempengaruhi opini publik. Publikasi hasil survei ialah kiprah utama mereka dan menjadi instrumen paling penting.
Coba perhatikan elektabilitas Jokowi yang disebutkan oleh LSI Denny JA dan SMRC. Semua mendekati angka keramat 60 persen. Angka psikologis yang menjadi batas seorang petahana akan memenangkan kembali dingklik kepresidenan.
Publikasi Litbang Kompas menjadi penting, lantaran mengubah konstelasi. Meski dinyatakan independen, Litbang Kompas tolong-menolong berada dalam satu kelompok bersama belasan forum survei yang menjadi pendukung Jokowi.
Selisih elektabilitasnya kok sanggup sangat jauh? Litbang Kompas hanya menyebut sekitar 12 persen. Sementara SMRC 25.8 persen, dan yang paling fantastis LSI Denny JA 27.8 persen.
Berkembang kabar ada tarik menarik di internal Kompas dengan istana sebelum hingga pada keputusan mempublikasikan survei itu. Dipublikasikan apa tidak? Kalau dipublikasikan berapa angka elektabilitas yang harus dimunculkan, dan berapa angka yang belum tetapkan untuk memilih?
Sebuah gosip yang beredar luas di media umum menyebutkan, pengusaha Sofyan Wanandi sudah membocorkan hasil survei itu.
Dalam pertemuan dengan pengusaha yang tergabung dalam APINDO Senin malam (18/3), Sofyan menyebutkan survei Kompas tidak akan dipublikasikan. Elektabilitas di bawah 50 persen dengan selisih hanya 11 %, menciptakan Jokowi sangat takut.
Sofyan mengingatkan para pengusaha untuk mengerahkan semua sumber daya memenangkan Jokowi. “ Jokowi belum tentu menang, kita dihentikan lengah,” ungkapnya mewanti-wanti.
Soal tidak mempublikasikan survei lantaran jagoannya bakal kalah pernah dilakukan Kompas. Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Kompas tidak mempublikasikan hasil survei. Data yang mereka miliki pasangan Ahok-Djarot kalah telak. Kalau dipublikasikan semangat Ahok-Djarot dan pendukungnya sanggup eksklusif runtuh.
Survei Litbang Kompas terbukti “akurat”. Ahok-Djarot kalah dari Anies-Sandi dengan selisih bunyi 15, 92 persen.
Coba bandingkan dengan hasil survei SMRC. Hanya sepekan sebelum pelaksanaan pilkada putaran dua, SMRC menyatakan selisih bunyi Anies-Sandi dengan Ahok-Djarot hanya 1 persen.
Dengan isu terkini Ahok-Djarot naik 3,1%, sedangkan derma untuk Anies-Sandi turun sekitar 2,8%. Dengan begitu SMRC ingin memberikan pesan bahwa Ahok-Djarot akan memenangkan piligub.
LSI Denny JA malah sudah lebih dahulu tereliminasi pada putaran pertama. Sebagai konsultan pasangan Agus-Silvy, survei LSI selalu menempatkan kliennya di posisi teratas. Anies-Sandi mereka nyatakan akan tersingkir di putaran pertama. Hasilnya terbalik, justru Agus-Silvy yang tersingkir.
Main kondusif dan pintu darurat
Keputusan Litbang Kompas tetap mempublikasikan hasil survei, sepertinya merupakan jalan kondusif yang harus mereka tempuh. Litbang Kompas tetap ingin menjaga reputasinya, sekaligus tetap sanggup mempublikasikan angka elektabilitas yang tidak terlalu “mengganggu” suasana hati Jokowi.
Namun bila kita perhatikan klarifikasi hasil survei, Litbang Kompas sudah memberi kisi-kisi yang sangat jelas.
Penurunan elektabilitas Jokowi-Amin sanggup disebabkan adanya perubahan pandangan atas kinerja pemerintahan, berubahnya arah derma kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah, dan masalah militansi pendukung yang besar lengan berkuasa pada penguasaan wilayah.
Pertama, sebulan menjelang pemungutan bunyi muncul pandangan-pandangan yang makin kritis terhadap hasil kerja pemerintahan. Kinerja selama lebih dari empat tahun, yang sebetulnya sanggup digunakan sebagai modal petahana memperbesar efek politiknya, menerima perlawanan makin sengit.
Kedua, penurunan kepuasan masyarakat terhadap kinerja bidang politik-keamanan, hukum, dan sosial mengindikasikan sulitnya pemerintah menahan serangan terhadap tiga sektor itu.
Ketiga, bertambahnya pemilih ragu, terutama di masyarakat kelas bawah, sanggup besar lengan berkuasa signifikan terhadap elektabilitas Jokowi-Amin.
Keempat, pasangan Jokowi-Amin juga menghadapi masalah militansi pendukung yang sejauh ini lebih lemah dibandingkan pendukung Prabowo-Sandi.
Bagaimana dengan LSI Denny JA? Mereka justru sudah melangkah lebih jauh. Secara berakal mereka sudah menyiapkan pintu darurat ( emergency exit ) bila hingga Jokowi kalah.
LSI Denny JA menyatakan, Jokowi akan kalah kalau angka yang tidak menentukan (Golput) membesar. Padahal menurut survei mereka, angka Golput pada pilares kali ini diprediksi akan lebih besar dibanding Pilpres sebelumnya.
Pada Pilpres 2014 angka Golput sebesar 30.42 persen. Sementara pada pilpres kali ini hanya 49,4 persen pemilih yang sanggup menjawab dengan benar kapan pilpres akan dilaksanakan. Dengan kata lain ada lebih dari 50 persen pemilih yang tidak tahu kapan hari pencoblosan.
Dengan begitu logika yang ingin dibangun LSI Denny JA, kalau hingga Jokowi kalah, bukan mereka yang salah. Tapi KPU yang salah lantaran kurang melaksanakan sosialisasi…..
Lembaga survei tidak pernah salah. Salah Anda sendiri mengapa tetap percaya! end
Penulis: Hersubeno Arief Sumber https://www.portal-islam.id